Showing posts with label Teologi. Show all posts
Showing posts with label Teologi. Show all posts

Monday, September 29, 2008

BUKU: QUO VADIS KRISTOLOGI?


BUKU BARU

Anda pecinta tema-tema Kristologi? Atau, paling tidak menjadi pengamat dalam diskusi-diskusi dan perdebatan Teologi melalui buku-buku, internet, Gereja dan media-media lainnya?

Tahukah Anda, bahwa dalam Teologi Kristen, Kristologi adalah sebuah tema yang paling kontroversial di antara tema-tema utama lainnya. Di balik kesan kontroversial tersebut, Kristologi selalu menjadi tema yang sangat menarik dan melibatkan banyak ahli untuk menyelidiki dan menafsirkannya.

Meskipun lusinan ahli telah menyelidiki dan memberikan sumbangan pemikiran untuk interpretasi Kristologi ini, namun, tema ini belum tuntas dan terus menimbulkan kontroversi yang baru.

Telah terbit sebuah judul buku seri Kristologi baru yang inspiratif dengan judul, "Quo Vadis Kristologi".

Buku ini mengkaji ulang mengenai interpretasi keilahian Yesus Kristus. Buku ini menyingkapkan, bahwa gereja atau orang Kristen di seluruh dunia dalam segala jaman, tidak sepenuhnya mengakui Keilahian Yesus Kristus.

Keilahian Kristus hanya sebuah pendekatan filosofis gereja Kristen dalam menengahi kontroversi Kristologi semata sejak awal sejarah gereja. Keilahian Kristus hanya sebuah analisa teologis yang bersifat interpretasi yang relatif.

Buku ini akan mengubah wajah gereja dan membuka wawasan dan cara pandang orang Kristen awam yang telah dibungkam oleh kekuatan filsafat dan teologi yang hanya bersifat membela doktrin dalam sekte gereja tertentu.

Siapa pun Anda? Anda wajib membaca buku ini!

Demikian

Thursday, November 22, 2007

Nama "Allah"

Oleh Riwon Alfrey

Sebutan "Allah" merupakan perpaduan dua kata Arab: "al" dan "ilah", artinya "the God" atau "Yang [Maha]kuasa". Kata Semit "ilah" sama arti dan akarnya dengan kata Ibrani "el", yang berarti "yang kuat", "yang berkuasa" dan menjadi sebutan untuk "Tuhan". Maka di PL., salah satu sebutan untuk "Yahweh" adalah "El" atau "Elohim" [= ketuhanan; majemuk-abstrak; dalam bahasa Ibrani.]. Sebelum masa Islam [Muhammad], 1700-an Masehi, kata "Allah" sudah dipakai di Bahasa Arab [Belum ada Islam] untuk menyebut "Pencipta alam semesta", yang Transenden [= terlalu jauh] dan tinggi untuk disembah atau dimintai perhatian. Orang Kristen keturunan Arab pada waktu itu pun sudah memakai sebutan "Allah" untuk Tuhan.

Sebutan "Allah" sama artinya dengan "Tuhan", walaupun tekanannya sedikit berbeda. Kata "Deus" dalam bahasa Latin dan "Theos" dalam bahasa Yunani, sama artinya dengan "El", tetapi berasal dari rumpun bahasa Indo-Germania, dan sama akarnya dengan kata Sanskerta "Dyn", artinya "yang berkilau-kilauan [di langit]". [Sumber: A. Heuken, SJ., EG - I: A-G: "Allah" (Jakarta: Cipta Loka Caraka, 1991), 88-98।]

Thursday, November 15, 2007

Iman Dan Teologi: "Hubungan Yang Harmonis"

Oleh Riwon Alfrey

"Melalui Iman Kita Mengerti" (Ibrani 11:1)

Teologi sebagai "penemuan", "penyusunan" dan "penyajian" mengenai kebenaran-kebenaran tentang Allah. Sama sekali tidak ada unsur yang merekomendasikan bahwa teologi itu bisa "dibuat". Pada prinsipnya, (1). Teologi dapat dimengerti. Artinya teratur dan rasional, berlawanan dengan "perasaan", "kontemplasi-perenungan" dan "imajinasi-hayalan". Agar bisa mengerti, teologi harus dipelajari dan ditekuni serta "hidup" di dalamnya. (2). Teologi menuntut adanya penjelasan. Artinya melibatkan "interpretasi" dan "sistematisasi". Ini ada kaitannya dengan pemaknaan suatu tema ajaran alkitabiah, istilah-istilah dan kosep-konsep teologi. Dalam prinsip ini, seseorang yang hendak belajar atau ingin memahami "sesuatu" dalam dan tentang teologi, ia harus menjadi seorang "penafsir" dan memiliki "sistem" berteologi tersendiri. Atau, paling tidak, mengadopsi sistem teologi tertentu yang diyakini "benar". (3). Iman harus bersumber pada Alkitab. Antara "beriman" dan "berteologi" secara Kristen itu hampir tidak ada bedanya. Namun, kadang-kadang suatu prinsip teologi bisa dikorbankan untuk iman; atau sebaliknya. Walau demikian, sumber teologi dan iman Kristiani harus berdasarkan pada [bukan 'dari' atau 'dalam'] Alkitab sebagai standard -- pedoman utama.

Syarat-syarat Berteologi:

(1). Harus percaya.

Memang ada seseorang yang mampu berteologi dengan baik tetapi tanpa iman. Tetapi, seorang teolog yang percaya, akan mampu memberikan penjelasan wahyu Allah yang tidak sepenuhnya dimengerti dengan pikiran yang terbatas. - Di sinilah pernyataaan, "Kita diam apabila Alkitab diam" sangat relevan. "Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita..." (Ul. 29:29).

(2). Harus berpikir

Berpikir identik dengan berfilsafat. Dalam berteologi, filsafat dianggap sebagai "Ibu" yang menggendong teologi itu. Tanpanya, teologi akan kekurangan. Pola berpikir seorang teolog, bukanlah mengabaikan rasio, tetapi, sebaliknya ia mampu mengatur - memanaga rasionya dengan teratur. Seorang teolog harus mampu berpikir secara teologis, yakni, berpikir secara eksegetik, berpikir dengan memahami suatu arti secara tepat. Misalnya, istilah "teologia Reformasi", secara tepat mengacu kepada suatu aliran teologi yang muncul pada era Reformasi abad ke-16-17. Bukan atau tidak ada kaitannya dengan reformasi politik di Indonesia, dsb. Dalam syarat inilah, mengapa istilah-istilah teologi itu tetap dipertahankan dan seminimal mungkin tidak dikontekstualkan. Seorang teolog, tidak hanya sebagai interpreter, tetapi juga mampu mempertahankan konsep-konsep teologianya secara utuh (logis dan berwibawa).

(3). Harus Interdependen.

Cara berpikir setiap orang memang berbeda-beda. Ada yang berpikir secara zig-zag, tetapi ada juga yang berpikir secara sistemik, teratur. Orang yang berpikir zig-zag tidak akan mampu mengintegrasikan pemikirannya secara konsistena. Sebaliknya, mereka yang berpikir sistematis, mampu melihat mengintegrasikan seluruh pemikirannya secara konsisten. Dunia teologi, adalah dunia berpikir dan analisis. Dalam berpikir dan menganalisa, seorang teolog tidak mungkin berdiri sendiri. Ia harus bergantung kepada pihak di luar diri dan pemikirannya. Dalam hal ini, intelek saja tidak cukup. Seorang teolog harus memiliki sumber pemikiran dan pemahaman yang berasal dari luar dirinya sediri. Seorang teolog harus interdependen. Seorang teolog harus memiliki pegangan utama, Alkitab -- wahyu Allah. Teolog harus memiliki panduan yang dapat dipercaya, yaitu para ahli dan karya mereka yang dapat dipertanggungjawabkan. Dan teolog harus tunduk pada pembimbingnya, yaitu Allah, yang kepadanya ia sedang belajar dan berteologi. Karena, "Roh Kebenaran itu akan memimpin ke dalam seluruh kebenaran" (Yoh. 16:13).

(4). Harus Menyembah.

Meskipun berteologi identik dengan latihan akademik, namun, idealnya seorang teolog adalah penyembah yang baik dan benar. Seorang teolog harus sadar betul kelayakan dari obyek penyembahannya dan sekaligus taat. Kata Yesus, "sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa". (Yoh. 15:5).

Jadi, Bagaimana?

"Ada tertulis dalam kitab nabi-nabi: Dan mereka semua akan diajar oleh Allah. Dan setiap orang, yang telah mendengar dan menerima pengajaran dari Bapa, datang kepada-Ku." (Yoh. 6:45). "Teologi yang sehat bukan hanya melalui pengakuan atau kredo, tetapi melalui kehidupan yang berbuah-buah, dan kehidupan yang kudus harus didasarkan pada teologi yang sehat." - (Charles C. Ryrie).

Sola Gratia

Monday, November 12, 2007

Teologi: "Istilah-Istilah Dasar"

Teologi (Yun: theologia, gabungan dari dua kata theos, Allah dan logos, logika), secara sederhana didefinisikan oleh A. H. Strong, sebagai "ilmu tentang Allah dan hubungan-hubungan antara Allah dan alam semesta." Karena Teologia itu merujuk kepada Allah, maka, Thomas Aquinas, mendefinisikannya secara spesifik, sebagai "pikiran Allah, ajaran Allah dan memimpin kepada Allah.

Quo Vadis Kristologi?

Sebuah analisa rekonstruksi Kristologi tradisional ketika diperhadapkan dengan dinamika kontroversi Kristologi masa kini. Sejak awal kekeristenan sampai sekarang terus bermunculan kontroversi-kontroversi Kristologi, bahkan terus berkembang semakin menggegerkan. Kristologi menjadi menu yang memberikan keuntungan bagi pihak orientalis dan antikristus. Karena besarnya kekuatan konspirasi berbagai pihak, termasuk kelompok teolog, bidah, orientalis, ilmuwan, seniman, sutradara dan media-media global yang berorientasi pada ketenaran, oportunitas dan uang; maka akhir-akhir ini tantangan terhadap Kristologi itu seperti kekuatan yang siap untuk meruntuhkan fondasi kekristenan yang telah dibangun lebih dari dua millennium itu.

Saturday, November 10, 2007

Teologi: "Sebagai Definisi Ilmu"

Seseorang pernah menceritakan pengalamannya kepada saya setelah ia mengikuti beberapa sesi ceramah teologi. Katanya: "…Tapi [ceramahnya-red।], memang bagus sih। Hanya pembicaranya suka memakai istilah-istilah yang sulit dimengerti oleh "encim-encim dan kawan-kawannya". He…he...he... Tetapi biarlah Roh Kudus yang bekerja. Tiada yang mustahil bagi Tuhan kan?! Kemudian saya menjawabnya: "Teologia memang barang 'impor'.